Workshop ini dibagi menjadi dua kelompok, yaitu:
- Paralel I “Menata bangunan dan lingkungan menuju kota yang berkualitas”
- Paralel II “Penataan kawasan kumuh yang menjawab tantangan perubahan iklim”. URDI masuk dalam sesi paralel II ini.
Narasumber kunci (keynote speech) pada workshop ini adalah Dr. Onno W. Purbo, M. Eng (ITB) dan Dr. Imam B. Prasodjo, MA (UI). Dr. Onno W. Purbo, M. Eng menyampaikan bahwa kehidupan dunia cyber atau yang sering dikenal dengan dunia maya memiliki manfaat lebih banyak daripada dunia nyata. Komputer dan internet merupakan alat bantu yang bisa membuat komunikasi lebih efisien dan kaya. Dan Dr. Imam B. Prasodjo, MA menekankan bahwa masyarakat yang berada di daerah rawan bencana harus hidup adaptif terhadap bencana yang ada di daerahnya itu, dan diperlukan juga partisipasi masyarakat dalam membangun permukiman yang memiliki ketahanan terhadap bencana. Beliau mengusulkan beberapa solusi agar kota-kota memiliki ketahanan terhadap perubahan iklim, yaitu: (1) bangun distribusi kota berdasarkan city rank distribution yang lebih seimbang; (2) galakkan pembangunan partisipatif kota; dan (3) pemukiman dengan bangunan panggung di daerah rawan banjir
Pada sesi Paralel II, Dr. Joko Prayitno Susanto (BPPT) menyampaikan topik “Tantangan penerapan teknologi dalam mendukung pembangunan kota yang adaptif perubahan iklim”. Kesimpulan dalam pembahasan ini, antara lain: (1) teknologi merupakan salah satu faktor penting dalam mempercepat pembangunan suatu kota; (2) pembangunan kota berbasis iptek akan mendorong kemampuan dan kemandirian kota tersebut, yang pada akhirnya meningkatkan daya saing; (3) penguasaan dan pemanfaatan teknologi untuk memberi nilai tambah dan solusi pada permukiman kumuh perkotaan; (4) penerapan teknologi sekarang dan waktu mendatang lebih diarahkan pada upaya untuk meningkatkan nilai tambah dan daya saing perkotaan yang berbasis pada teknologi pemanfaatan sumberdaya alam dengan tetap memperhatikan keberlanjutan fungsi dan daya dukung lingkungan hidup termasuk dalam antisipasi perubahan iklim.
Ir. Amwazi Idris, M.Sc (PU) menyampaikan topik “Penataan kawasan kumuh yang menjawab tantangan perubahan iklim”. Kesimpulan dalam pembahasan ini, diantaranya:
- Dalam kaitannya dengan peruabahn iklim, penataan kawasan kumuh tetap menggunakan pola hidup harmoni dengan alam. Artinya jika tidak bisa mengeluarkan permukiman kumuh dari daerah-daerah rawan bencana, maka fungsi-fungsi alam yang telah dijarah oleh kawasan kumuh ini pun tetap harus dikembalikan.
- Secara umum penanganan permukiman kumuh dapat dibedakan atas penanganan di tempat (artinya penataan permukiman tetap di tempat yang ada dengan berbagai penyesuaian terhadap kendala fisik wilayah dan perilaku sosial serta kegiatan ekonomi masyarakatnya), dan pemindahan atau ressettlement.
